Haru Haru – Big Bang

Tonaga
Yeah, finally I realise, that I’m nothing without you
I was so wrong, forgive me

Ah

Pado-chorom buswejin ne mam
Baram-chorom hundur-rinun ne mam
Yongi-chorom sarajin ne sarang
Munsin-chorom jiwe-jijiga anha
Hansuman tang-i kojira shi-jyo~o~o
Ne gasum-sogen monjiman sah-ijyo~o (Say goodbye)

Nega obsin dan harudo mos sal-goman gata-don na
Sengak-gwanun daruge-do gurok-jorok honjajal sara
Bogo-sipdago bullo-bwado non amu dedab-obsjanha
Ho-dwen gide golo-bwado ijen soyong-obsjanha

Ne yeope inun gu saram-i mwon-ji hokshi nol ul-lijin anunji
Gude nega bo-igin sag da ijo-nunji
Jog-jongdwe daga-gagi-jocha malul-gol su jocha obso ete-ugo
Na holo gin bamul jise-ujyo subeg-bon jiwe-nejyo

Dola-bojiman-go tona-gara to narul chaji-malgo sara-gara
Norul sarang-hetgie hu-he-obgie jo-atdon kiog-man gajyo-gara
Gurok-jorok chama-bulman-he gurok-jorok gyon-dyo-nelman-e
Non gurol-surok hengbok-heya-dwe haru-haru mudjyoga-ne
Oh girl, I cry cry
You’re my all (Say goodbye)

Girul goda no-wana uri maju-chinda-hedo
Mot bonchog hagoso gudero gadon-gil ga-jw
Jakuman ye sengak-i to-oru-myon amado
Nado mule gudel chaja-galji-do mula

Non nul gu saram-gwa hengbok-hage non nul nega darun mam an moge
Non nul jagun milyon-do an namke-kum jal jine-jwo na boran-dushi
Non nul jo hanul-gati ha-yage dun gurum-gwado gat-i sapara-ge
Non nul gure-ge uso-jwo amu il obsdus-i

Dola-bojiman-go tona-gara to narul chaji-malgo sara-gara
Norul sarang-hetgie hu-he-obgie jo-atdon kiog-man gajyo-gara
Gurok-jorok chama-bulman-he gurok-jorok gyon-dyo-nelman-e
Non gurol-surok hengbok-heya-dwe haru-haru mudjyoga-ne

Narul tona-so mam pyonhe-jigil (Narul itgo-so sala-gajwo)
Gu nunmul-un da marul-teni, yeah (Haru-haru jina-myon)
Chari manaji anha-dora-myon dol apul-tende, hmm~
Yong-wonhi hamke-haja-don gu yagsog ijen
Chuog-e mudo-dogil bare baby nol we-he gido-he

Dola-bojiman-go tona-gara to narul chaji-malgo sara-gara
Norul sarang-hetgie hu-he-obgie jo-atdon kiog-man gajyo-gara
Gurok-jorok chama-bulman-he gurok-jorok gyon-dyo-nelman-e
Non gurol-surok hengbok-heya-dwe haru-haru mudjyoga-ne

Oh girl, I cry cry, You’re my all, say goodbye bye
Oh my love, don’t lie lie, You’re my heart, say goodbye

A/N: Fanfic ini merupakan cerita panjang dari MV Big Bang, Haru Haru yang ditulis dalam versi sendiri. G-Dragon menggunakan nama aslinya yaitu Kwon Jiyong begitu pula dengan TOP dengan nama Choi Seunghyun.

Haru Haru made by miki

<>

Hari ini aku akan menjadi anak baru. Tidak tanggung-tanggung, di sebuah negara yang tidak kukenal sama sekali. Korea Selatan. Kedua orang tuaku asli orang Korea tetapi sejak lahir hingga sekarang ini aku tinggal di Jepang. Baru kali ini aku menginjakkan kaki di Korea. Dan masalah terbesarku sekarang, aku tidak lancar bahasa Korea.

Aku mengikuti guru pembimbingku masuk ke sebuah ruang kelas. Tadi aku sempat melihat di papan depan pintu, 2-1. Aku hanya menundukkan kepalaku, tidak berani menghadap satu kelas itu yang aku yakin mereka dihinggapi raut wajah penasaran.

“Jiyoung-ssi, silahkan perkenalkan dirimu,” pinta guru pembimbingku tersebut.

Bagaimana ini? Aku sudah berlatih sedikit dengan okaasan (A/N: okaasan = ibu) untuk memperkenalkan diri. Tapi aku tidak yakin itu.

“A.. an.. annyeonghaseyo. Jeoneun Kang Jiyoung-imnida. Manaseo ban gawayo. Selamat pagi. Saya Kang Jiyoung. Senang berkenalan dengan kalian.” Huh, aku gugup sekali. Apa bahasa Koreaku terdengar lancar?

“Jiyoung ini pindahan dari Jepang, ia tidak lancar bahasa Korea. Kuharap kalian bisa membantunya belajar dan merasa nyaman. Arasso?” Untung gurunya mengerti keadaanku. “Jiyoung, kau duduk dengan Jiyong saja. Untunglah dia dan teman-temannya bisa bahasa Jepang, dia bisa membantumu.”

Aku menoleh ke tempat duduk yang ditunjukkan guru ke tempat yang diduduki dua orang cowok yang tampak menakutkan bagiku. Salah satunya, yang kulitnya sedikit kecoklatan merengek.

“Sonsaeng, lalu aku duduk dimana?” kata cowok itu.

“Kau duduk dengan Taeyang dulu. Nah, sana Jiyoung-ssi.”

Aku menghampiri tempat duduk itu yang sudah ditinggalkan cowok berkulit coklat tadi dan merasa sedikit tidak enak padanya. Tempat duduknya sedikit di pojok belakang, di sebelah jendela besar yang menghadap keluar lapangan sepak bola. Aku duduk disitu, sedikit canggung.

“Ohayo gozaimasu. Selamat pagi.” Aku hanya ingin meyakinkan apakah ia bisa berbahasa Jepang dengan baik atau tidak.

Cowok itu menoleh padaku. Kurasa ia sedang asyik mendengarkan mp3-nya.

“Ohayo,” katanya sambil melepaskan headsatnya. Ia tersenyum padaku. Kurasa ia cukup ramah.

Aku menoleh ke belakang, penasaran dengan isi kelas ini. Saat aku melihat sosok yang duduk persis dibelakangku, aku menjerit kecil. Cowok itu sedang tertidur dengan tenang sebelum aku menjerit. Ia membuka matanya yang membuatku tambah takut padanya. Ia tampak mengerikan.

“Jiyoung-ssi, kau takut padanya?” tanya cowok yang duduk di sebelah cowok menyeramkan itu.

Aku mengangguk.

“Omong-omong. Seungri-imnida,” kata cowok itu memperkenalkan diri. “Yang ini Seunghyun.”

Aku mengangguk lagi. Jujur, aku tidak tahu harus bicara apa.

==========================

=====================================

<>

Anak baru itu langsung duduk di sebelahku setelah Daesung diusir oleh sonsaeng. Lucu sekali, ia tidak bisa bicara Korea. Apa aku harus menjadi pentransletnya selama ia bersekolah disini? Pertama kali menyapa pun, ia menggunakan bahasa Jepang. Memang harus kuakui, ia cukup manis. Bahkan Seungri yang playboy pun pasti tertarik dan mulai memperkenalkan dirinya. Belum apa-apa, cewek itu sudah ketakutan saat pertama kali melihat Seunghyun. Gadis aneh.

“Jiyong-ssi, ilbon e ga boasseoyo? Jiyong, pernah pergi ke Jepang?” Cewek itu berbicara padaku dengan terbata-bata.

“Ne. Waeyo? Ya. Kenapa?”

“Aniyo. Tidak apa-apa. Watashi no hanasu kotoba ga wakarimasu ka? Kamu mengerti apa yang kukatakan?”

“E, yoku wakarimasu. Ya, mengerti sekali.”

Setelah perkataanku itu, ia terlihat sedikit tenang. Mungkin memang aku harus menjadi pentransletnya.

==============================================================================

<>

Bel istirahat berbunyi nyaring. Pasti sudah waktunya makan siang. Dua cowok di belakangku langsung berdiri dan diikuti dua cowok lagi. Jiyong juga hendak menyusul keempat orang itu.

“Oedi gaseyo? Mau kemana?” Entah kenapa, tanganku reflek menahannya dengan menarik bajunya.

“Kantin. Mau ikut?” Aku mengangguk dan melepaskan baju Jiyong. Aku mengikutinya di belakang.

Sepanjang lorong menuju kantin, beberapa murid cewek memperhatikanku dengan tatapan sirik. Bahkan sampai ada yang menanyakan apakah aku kekasih barunya Jiyoung. Tetapi Jiyoung hanya menjawabnya dengan senyuman yang mengecewakan murid-murid itu.

Jiyong duduk di meja yang sudah ditempati empat temannya. Dua dari mereka aku sudah tahu, Seunghyun dan Seungri. Yang dua lagi siapa? Tapi aku tidak berani menanyakannya secara langsung. Mereka semua tampak menyeramkan.

“Jiyoung-ssi, kau duduk disini saja bersama kami,” kata cowok yang berkulit coklat itu. Matanya sipit, beda dari yang lain.

“Gomawo. Makasih.” Aku duduk di sebelah Jiyoung, karena hanya dia yang bisa bikin aku tidak canggung.

“Ehm, watashi wa Daesung desu. Aku Daesung. Benar tidak?” Aku menangguk.

“Taeyang-imnida.” Yang satu lagi memperkenalkan diri dengan tersenyum. Dia cukup tampan. Tapi menurutku, Daesung lah yang paling ramah.

==================================================================================

<>

Sudah tiga bulan Jiyoung pindah ke sekolah ini. Bahasa Koreanya juga sudah cukup lancar. Dan kami berdua semakin akrab. Dan yang membuatku spesial, dia sangat dekat dengan teman-temanku. Terutama aku. Dan entah kenapa, aku juga merasakan Jiyoung sangat spesial bagiku. Ia selalu tertawa jika mendengar lelucon Daesung dan aku pun ikut tertawa jika melihat senyumannya. Ia selalu menjadi penghangat suasana diantara kami berenam. Ia sungguh spesial bagiku.

“Shokuji ni ikimasho ka? Kita mau pergi makan?” tanya Taeyang sepulang sekolah. Sejak kedatangan Jiyoung tiga bulan lalu, Taeyang, Seungri, dan Daesung tertarik untuk belajar bahasa Jepang. Seunghyun pun lancar bahasa Jepang juga, ibunya orang Jepang asli. Maka dari itu aku dan Jiyoung mengajarkan mereka. Sedangkan mereka mengajarkan Jiyoung bahasa Korea.

“E, nani ga ii desu ka? Mm, wa-shoku? Soretomo, chuka-ryori? Ya, kamu mau makan apa? Mm, masakan Jepang atau masakan Cina?” jawab Jiyoung sambil kami menuju lapangan parkir.

“Wa-shoku!” teriak Daesung.

“Ja, sushi-ya e ikimasho!! Ayo, kita pergi ke warung sushi!!” ucap Jiyoung sambil berlari-lari. Melihat dia seperti itu, hatiku juga senang.

Kami naik mobil Seungri. Kecuali Daesung yang membawa motornya. Kami semua menuju warung sushi yang diberitahu Jiyoung.

“Koko wa kirei-na sushi-ya desho? Tokidoki kimasu. Sonna-ni takaku nakute, oishii desu yo. Warung sushinya bagus, kan? Kadang-kadang aku suka makan disini. Harganya nggak mahal dan enak,” kata Jiyoung sesampainya kami di depan warung itu.

Kami duduk berenam di sebuah meja dan melihat daftar menu. Sepertinya pelayannya semua berbahasa Jepang.

“Sate, nani ni shimasu ka? Ayo, kalian mau makan apa?” tanya Jiyoung.

“Aku mau tekka. Kau?” tanya Seunghyun pada Seungri.

“Moriawase.”

Setelah bergulat pesanan yang cukup sulit, akhirnya dengan tidak sabar aku memanggil pelayannya.

“Chotto… Tekka to moriawase, sore ni akadashi futa-tsu kudasai. Maaf, tolong satu porsi tekka dan moriawase, dan dua porsi akadashi,” kataku.

“O-nomimono wa? Minumannya?”

“Sake ip-pon kudasai.”

“Ya! Kita masih dibawah umur!” kata Daesung setelah pelayan itu pergi.

“Lalu?”

“Sake kan…”

“Sudahlah, kau kan juga suka minum soju. Apa bedanya?” kata Seunghyun.

Setelah pesanan datang, semuanya segera makan dengan lahap.

“Ikaga desu? Oishii desu ka? Gimana? Enak kan?” tanya Jiyoung.

“E, totemo totemo. Ya, enak sekali,” jawab Daesung dengan mulut penuh.

=================================================================================

<>

Jam istirahat seperti ini biasanya aku akan makan siang dengan Jiyong dan kawan-kawannya. Tapi hari ini badanku tidak begitu sehat, maka dari itu aku diam saja di kelas tanpa bilang pada yang lainnya. Aku sedang menulis catatan sejarah Jiyong saat Nicole dan Goo Hara datang menghampiriku.

“Jiyoung-ssi. Sedang apa?” tanya Nicole.

“Menyalin catatan punya Jiyong. Ada perlu apa?”

“Kau mau tidak rambutmu kami sisir? Banyak cewek diluar sana yang sirik padamu karena kau dekat dengan Jiyong dan kawan-kawannya. Makanya kami mau mendandanimu. Boleh kan?”

“Ah, kalau untuk nyisir saja sih tidak apa-apa.”

Hara mulai menyisir rambut panjangku dengan tenang. Aku senang juga punya kegiatan cewek seperti ini.

“Hara, rambutmu kan lebih panjang dariku. Gimana mengurusnya?” tanyaku.

“Oh ini, Nicole yang biasa mengurusnya.” Hara tertawa saat bilang begitu. Menurutku, Hara adalah gadis tercantik di kelas, dengan mata besar indah dan wajah unik yang berbeda dari gadis lain. Ia cocok sekali dengan Seungri, menurutku.

“Jiyoung-ssi? Rambutmu…?” Hara menunjuk sisirnya dan aku terkejut melihat beberapa helai rambutku menempel di sisir itu. Bukan, bukan beberapa helai, tetapi beberapa genggam.

Aku benar-benar kaget melihat itu. Aku bangkit dari kursi dan berlari keluar kelas menghiraukan panggilan Nicole dan Hara. Aku berlari menuju toilet. Untung kosong. Aku berdiri di depan wastafel dan menatap cermin di depanku. Aku sudah menangis sejak keluar kelas tadi. Bagaimana bisa di saat seperti itu? Apa yang akan dipikirkan Nicole dan Hara kemudian? Tidak, mereka pasti tidak akan memberitahu ataupun menanyakan macam-macam.

Aku terus menangis di toilet. Sekali-kali aku menarik rambutku. Setengah menjambak dan beberapa helai lagi berjatuhan ke bawah.

Tiba-tiba pintu toilet terbuka dan aku terkejut melihat Seungri ngos-ngosan.

“Seungri? Kenapa kesini?” tanyaku sambil menghapus bekas air mataku di pipi.

“Aku… aku sembunyi dari kejaran cewek-cewek. Tunggu, seharusnya aku yang menanyakan itu padamu? Kau kenapa disini?”

“Aku? Aku menggunakan toilet, tentu saja.”

“Jiyoung, toilet wanita ada disebelah. Ini toilet pria.”

Aku memperhatikan sekitar. Sial. Aku salah masuk. Karena terlalu sibuk menangis aku sampai tidak memperhatikan jalan dan salah masuk.

“Seungri, please, jangan cerita pada siapapun tentang kejadian ini. Arasso?” bujukku.

“Baiklah, baiklah. Asal kau tolong usir cewek-cewek di luar sana.”

Aku keluar perlahan dan langsung mendengar suara teriakan dan jeritan dari murid-murid perempuan.

“Seungri oppa! Saranghae!!! We love you, Seungri oppa!”

=================================================================================

<>

Hari ini aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku pada Jiyoung sepulang sekolah nanti. Aku sudah bertekad, apa pun yang akan ia katakan nanti, aku siap.

“Jiyoung, pulang sekolah nanti aku tunggu di gerbang sekolah,” kataku singkat padanya saat istirahat. Sepanjang sisa pelajaran, aku sama sekali tidak berani bicara padanya.

Aku menunggu dengan gugup di gerbang sekolah. Taeyang bertanya-tanya padaku kenapa aku tidak langsung pergi dari sekolah seperti biasa, tetapi aku hanya bilang “lihat saja besok”.

Jiyoung datang menghampiriku dengan tersenyum seperti biasa. Aku jadi tambah gugup.

“Nah Jiyong, ada apa?” tanyanya.

“Aku antar pulang ya?” Aku jadi semakin salah tingkah.

“Ehm. Baiklah.”

Kami berdua berjalan di trotoar dan gugupku belum juga surut. Aduh, ada apa denganku ini?

“Ehm, Jiyoung, bagaimana kalau kita main tebak-tebakan?” tanyaku mencairkan suasana.

“Boleh. Tebak apa nih?”

Aku mengulurkan kedua tanganku yang dikepal.

“Pilih kiri atau kanan.”

Jiyoung menatap tanganku beberapa saat dan menunjuk tangan kiriku. Aku membukanya dan satu permen stroberi yang ada disitu diambil oleh Jiyoung.

“Buatku kan?”

Aku mengepalkan tanganku lagi.

“Sekarang pilih yang mana?”

Jiyoung menunjuk tangan kiriku lagi. Aku membukanya dan Jiyoung terkejut meilhat dua cincin diatas telapak tanganku.

“Jiyoung-ssi, sekarang putuskan, jika kau mengambil cincin ini, artinya kau bersedia jadi kekasihku. Jika tidak, ya tidak.” Aku begitu lancar mengucapkan itu semua.

Jiyoung ragu sejenak.

“Mm, Jiyong-ssi…”

“Putuskanlah,” kataku sabar.

Tidak kusangka selama beberapa menit ia bimbang, ia akhirnya mengambil salah satu cincin di tanganku.

“Aku terima ini,” katanya.

Serentak aku langsung memeluknya dengan erat. Hampir saja aku mengangkatnya. Jiyoung pun membalas pelukanku. Kami berdua memakai cincin itu di kari manis kiri kami dan saat itu aku berjanji tidak akan melepaskan cincin itu lagi.

“Saranghae, Jiyoung.”

“Aishiteru, Jiyong.”

=====================================================================================

<>

Sekarang sudah awal Desember sekaligus aku sudah menjadi kekasih Jiyong selama dua bulan. Bagaimanapun saat Jiyong memberiku cincin dulu, aku sungguh senang. Aku tidak tahu sejak kapan, tetapi aku juga sangat menyukainya karena itu aku sangat bahagia jika terus di sampingnya.

Selama lima bulan sejak aku pindah ke Korea, Jiyong, Daesung, Taeyang, Seungri, dan Seunghyun sudah mengajakku ke berbagai tempat menakjubkan di Seoul. Bahkan kami sudah menyempatkan diri ke pulau Jeju.

Tetapi di awal bulan ini aku benci satu hal. Aku benci pernyataan dokter tentang kesehatanku. Aku memutuskan untuk menghubungi Seunghyun, bukan Jiyong.

“Yeoboseyo? Halo?” tanya suara berat di seberang sana. Meski sudah lima bulan aku tinggal di Korea. Tetap saja aku masih tidak fasih bahasa Korea.

“Moshi-moshi, Seunghyun no o-taku desu ka? Halo, Seunghyun, kan?” tanyaku memastikan.

“Hai, Seunghyun desu ka. Jiyoung-chan? Ya, ini Seunghyun. Jiyoung?”

“Ne. Ada yang ingin aku bicarakan. Bisa bertemu hari ini?” tanyaku.

“Bisa. Datang saja ke rumahku sore ini.”

“Ne, gomapta.”

Akhirnya sore itu aku datang ke rumah Seunghyun. Aku memutuskan untuk berbahasa Jepang saja. Seunghyun tadi bilang keluarganya bisa bahasa Jepang, karena itu aku tidak perlu khawatir salah bicara.

Aku membicarakan masalah kesehatanku pada Seunghyun dan ia berjanji tidak akan memberitahu Jiyong tentang itu. Aku lega ia bisa membantuku ketika aku meminta bantuannya untuk satu hal yang sesungguhnya tidak ingin aku lakukan.

===================================================================================

<>

Menurut firasatku, akhir-akhir ini Jiyoung berusaha menghindariku. Aku tidak tahu apa yang sedang dialaminya. Aku berusaha menghubunginya tetapi ia sama sekali tidak menanggapinya. Maka aku memutuskan akan membiarkan Jiyoung seperti itu dulu sampai kesabaranku habis akan dia.

Hari ini aku dan yang lainnya akan ke Chungnam. Kami semua berkumpul di rumah Seungri.

“Kare wa kuru desho ka? Apa ia akan datang?” tanyaku. Tentu saja aku menanyakan tentang Jiyoung pada Seunghyun.

“Wakarimasen. Konai kamo shiremasen. Kono aida kara aoi kao o shite, yoku tsukareta to itte-imashita. Aku nggak tahu. Mungkin nggak datang. Akhir-akhir ini wajahnya suka pucat dan katanya ia capek,” kata Seunghyun.

“Doko ka karada ga warui no desu ka. Byoki kamo shiremasen ne. Mungkin ada yang tidak beres dengan dirinya. Mungkin dia sakit,” celetuk Taeyang.

“So kamo shiramasen. Shikashi ano yosu dewa hoka ni nani ka nayami ga aru ni chigai arimase. Mungkin, tapi dari kelakuannya itu, pasti tidak salah lagi, pasti ada sesuatu yang dideritanya,” kataku.

“So desu ne. Chika-goro no kare wa yosu ga sukoshi okashii desu ne. Ya, benar. Akhir-akhir ini kelakuannya sedikir aneh,” sambung Seungri.

Ternyata bukan aku saja yang merasa Jiyoung berubah. Yang lain pun seperti itu. Sebenarnya ada apa dengan Jiyoung? Aku memutuskan untuk mengirimkan pesan padanya.

Dandan samuku natte-kimashita ga. Sono go o-kawari? Watashi wa kaze o hite-shimaimashita. Musim dingin makin dingin saja. Gimana keadaanmu? Aku kena pilek dan masuk angin.

========TBC========

A/N: Fanfic ini merupakan cerita panjang dari MV Big Bang, Haru Haru yang ditulis dalam versi sendiri. G-Dragon menggunakan nama aslinya yaitu Kwon Jiyong begitu pula dengan TOP dengan nama Choi Seunghyun.

Haru Haru
Haru Haru

<>

Jiyong mengirimiku pesan singkat yang membuatku langsung khawatir. Musim dingin begini ia terkena pilek. Tetapi aku sudah mengambil keputusan untuk tidak menyusahkan ataupun berhubungan lagi dengan Jiyong. Walau rasanya begitu sakit untukku, tetapi ini demi Jiyong juga. Aku tidak akan membalas pesannya ataupun jika ia meneleponku. Tidak.

Keesokan harinya…

“Jiyoung!” Tidak kusangka Jiyong menahanku di depan kelas. Ia menarik lenganku saat aku hendak masuk kelas.

“Lepaskan,” pintaku.

Jiyong melepaskannya dengan segera namun masih jaga-jaga agar aku tidak bisa kabur kemana-mana.

“Ada apa denganmu?” tanyanya.

“Aku?”

“Ya, ada apa denganmu akhir-akhir ini!”

Aku menarik napas. Aku sudah menyiapkan ini semua dari kemarin. Dan harus kulakukan.

“Jiyoung, lebih baik kita putus saja.” Aku sama sekali tidak berani menatap matanya.

“MWO?? APA??” Tidak kusangka reaksinya akan seperti itu.

“Sudah jelas, kita putus saja.”

“Waeyo? Kenapa?”

Aku harus berbohong.

“Ada orang yang kucintai.” Tidak, bahkan berbohong padanya saja begitu menyakitkan bagiku.

“Nuguyo? Siapa?”

Aku menutup mataku.

“Seunghyun.”

Selama beberapa menit aku dan Jiyong sama sekali tidak bersuara. Jiyong diam saja menatapku dengan tidak percaya. Setelah aku yakin bahwa Jiyong tidak akan bersuara lagi, aku masuk ke kelas perasaan kacau. Di luar sana, dari sepengetahuanku, Jiyong memukul daun pintu dengan keras yang mengagetkan semua anak disekitarnya, termasuk aku. Setelah itu, sampai pelajaran terakhir selesai, ia tidak kembali ke kelas.

====================================================================================

<>

Aku sungguh tidak percaya Jiyoung akan mengatakan seperti itu. Sejujurnya aku bisa saja menerima semua perkataan Jiyoung itu. Tapi satu hal yang tidak bisa aku terima. Seunghyun. Kenapa ia harus menyukai sahabatku sendiri? Pabo Jiyoung! Jiyoung bodoh! Rasanya aku ingin membunuh Seunghyun.

“Jiyong! Dari mana saja tadi?” Taeyang dan Daesung menghampiriku saat aku mengambil tasku yang tertinggal di kelas.

“Kau tahu apa yang terjadi pada Jiyoung?” tanya Taeyang.

Aku diam. Aku malas membicarakan masalah ini.

“Ya! Lihat tuh. Itu Seunghyun dan Jiyoung kan?” Daesung menunjuk ke luar jendela dan aku melihat Seunghyun dan Jiyoung di bawah sedang membicarakan sesuatu hanya berdua. Sepertinya Seungri ada di dalam mobilnya untuk menunggu Seunghyun. Apa-apaan itu mereka?!

Aku segera lari ke bawah dan ke luar lapangan hendak menghampiri Seunghyun dan Jiyoung. Daesung dan Taeyang mengikuti di belakangku. Aku berhenti di jarak 10 meter dari mereka. Dan dengan jelas bisa kulihat apa yang terjadi pada mereka berdua yang langsung membuatku panas. Seunghyun dengan tanpa beban membelai pipi Jiyoung dengan satu jarinya dan menatap dengan hangat Jiyoung seakan-akan ingin mengejekku bahwa Jiyoung lebih memilih dirinya dari padaku. Dan, yang membuatku tambah terbakar emosi, Jiyoung dengan tidak segan melepas cincin yang kuberikan dulu dan memberikannya pada Seunghyun. Jiyoung! Itu cincinku! Dadaku naik turun menahan amarah. Tidak bisa kuterima perlakuan seperti itu.

Jiyoung menatap ke arahku dan memandang dengan sinis lalu pergi meninggalkan kami semua disitu. Aku segera beranjak maju menghampiri Seunghyun dan tanpa pikir-pikir lagi meninju wajahnya itu. Tidak kusangka Seunghyun bangkit dari kesadarannya yang menghilang beberapa detik dan balik meninjuku. Taeyang dan Daesung langsung berusaha memisahkan kami berdua. Begitu pula dengan Seungri yang langsung turun dari mobilnya dan menarik Seunghyun agar tidak dekat-dekat denganku.

“KAU PIKIR APA YANG KAU LAKUKAN, HAH?!” teriakku.

“Apa? Pacaran dengannya?” Aku benci nada bicaranya yang seakan mengejekku.

“Kalian pacaran? Bukannya Jiyoung dan Jiyong…” kata Daesung bingung.

“Ya, kami pacaran. Memang ada yang salah? Toh Jiyoung kan sudah single.” Aku semakin benci pada Seunghyun.

“KAU……!!” Aku hendak memukulnya lagi tetapi Taeyang dan Daesung segera menahanku.

Seungri mengajak Seunghyun menaiki mobilnya dan langsung pergi di depan mataku.

Malam harinya…

Aku mengajak Taeyang, Daesung, dan Seungri untuk datang ke sebuah kelab. Aku ingin melepas semua kekesalanku disana. Dengan keramaian, musik, dan wanita disana. Kami tidak perlu kesulitan untuk mencari pasangan karena para wanita akan mendatangi kami, terutama Seungri. Saat Taeyang menyetir mobil Seungri dan mencari parkiran, Sungri dengan tiba-tiba menyeletuk.

“Itu mobil Seunghyun kan?” Ia menunjuk ke sebuah mobil mewah berwarna krem yang sangat kukenal.

Bukan kehadiran mobil Seunghyun yang mengejutkanku, tetapi orang yang berada di dalamnya. Jiyoung dan Seunghyun berada di dalamnya, duduk di kursi depan. Seunghyun menyadari tatapanku. Aku memandangi mereka dengan berang. Dan emosiku segera naik ketika Jiyoung meraba-raba wajah Seunghyun yang lebam dan biru akibat pukulanku tadi siang. Bisa kulihat wajah Jiyoung menampakkan kekhawatiran.

Aku keluar dengan membanting pintu dan menuju mobil Seunghyun. Aku memukul bagian depan mobil Seunghyun dengan berang dan menatap mereka berdua dengan buas. Sekarang aku sudah terlalu benci dengan mereka berdua. Seunghyun yang melihatku tersenyum meremehkan dan sengaja membuatku cemburu. Ia merangkul Jiyoung dan menatapku dari dalam seolah aku film yang sedang diputarnya di dalam mobil. Jiyoung sebaliknya, tidak ingin sedikit pun menatapku.

Aku hendak merusak dan membanting kaca mobil Seunghyun tetapi Seungri, Taeyang, dan Daesung segera menarikku ke dalam mobil dan meredakan emosiku yang terus meledak-ledak. Seungri langsung menancapkan gasnya dan pergi dari tempat itu.

===================================================================================

<>

Rambutku semakin terus menepis hari demi hari. Tetapi aku tidak tahu kapan waktu yang sebenarnya untuk mengakhiri semua penderitaan ini. Aku sudah melukai banyak hal. Badanku, hatiku, Seunghyun, dan Jiyong. Jiyong…. Sudah berhari-hari ia tidak masuk sekolah dan tidak ada kabarnya. Aku benci jika memang harus seperti ini. Aku sama sekali tidak tahu bagaimana keadaan Jiyong di luar sana. Daesung sudah mencarinya ke rumahnya, tetapi tidak ada siapapun. Taeyang sudah berkali-kali menghubunginya, tetapi hasilnya nihil. Jika memang seperti ini, aku rela berlutut demi Jiyong pulang. Tetapi apa gunanya? Jiyong sudah membenciku.

Satu minggu kemudian…

Jiyong masih tidak muncul. Rambutku sudah hampir habis. Obatku sudah semakin banyak namun hanya sedikit yang sanggup aku masukkan.

Dua minggu kemudian…

Taeyang memberi kabar bahwa Jiyong baik-baik saja di luar sana. Aku sedikit lega. Tetapi karena itu juga aku jadi harus selalu menangis setiap hari.

Tiga minggu kemudian…

Dokter memberitahuku bahwa mulai saat itu aku harus di rawat di rumah sakit untuk mendapat perawatan menghadapi operasi kanker otakku yang sebetulnya beresiko tinggi untuk nyawaku. Namun, bagaimana hasilnya nanti, aku menerimanya semua. Tubuhku sudah rapuh oleh obat-obatan yang kukonsumsi dan wajahku sudah tidak secerah dulu saat pertama kali pindah ke Seoul. Kini aku tidak jauh berbeda dengan orang yang selalu perlu dikasihani karena sebentar lagi akan pergi untuk selamanya.

Berhari-hari aku diam di rumah sakit. Seunghyun, Seungri, Taeyang, dan Daesung selalu menemaniku. Terutama Seunghyun yang hampir menjagaku sepanjang waktu. Ia dengan setia bermain denganku, menyuapiku, bercanda denganku, dan melakukan segala hal untuk menghilangkan kebosananku.

Beberapa hari kemudian…

Sekarang sudah saatnya. Aku siap masuk ruang operasi dan menyerahkan takdirku pada dokter-dokter itu yang mengiris-iris kepalaku dengan berbagai peralatan operasi. Jika berhasil, maka aku masih bisa ada harapan melihat dunia lagi. Jika tidak….

=================================================================================

<>

Aku menyusuri jantung kota Seoul yang dingin di bulan Januari. Dari cafe ke cafe aku pesan kopi panas, menghabiskan uangku yang tersisa di dompet tanpa pulang ke rumah. Aku hanya berjalan tanpa tujuan di antara ratusan manusia yang pulang kantor.

Ponselku yang beberapa hari lalu baru kunyalakan berbunyi menandakan Taeyang menelepon.

“Yeoboseyo?”

“Jiyong, kau dimana?”

“Ada perlu apa?”

“Tolong kau segera datang ke sini. Jiyoung sedang di ruang operasi. Ia butuh kau untuk menguatkannya. Datanglah sekarang!” Segera setelah itu Taeyang menutup komunikasi tersebut.

Aku langsung berlari tanpa merasa bersalah mendorong beberapa orang yang menghalangi jalanku. Aku berlari sekuatku untuk mencapai rumah sakit yang masih berkilo-kilo meter jauhnya.

Jiyoung… Kenapa tiba-tiba ia berada di ruang operasi? Bagaimana keadaannya sekarang? Apa ia sudah menyembunyikan banyak hal yang tidak kuketahui?

Aku sampai di depan rumah sakit selama 20 menit perjuanganku berlari. Dengan sedikit dipaksakan aku naik ke lantai 5 dengan tangga darurat dan menghadapi pintu ruang operasi tertutup. Seunghyun, Seungri, Taeyang, dan Daesung menunggu dengan was-was di depannya dan memandangku dengan tatapan kosong. Sempatkah aku?

Seunghyun menghampiriku dan menggenggam tanganku. Ia meletakkan sesuatu di telapak tanganku. Cincin yang kuberikan pada Jiyoung dulu dan sebuah surat.

“Ia hanya ingin kau tidak cemas,” kata Seunghyun.

Aku duduk di kursi terdekat dan membaca surat dari Jiyoung tersebut. Ia menulisnya dalam bahasa Jepang.

Soto wa ame ga futte-iru yo desu. Toki-ori kaze ga fuite ame ga para-para to mado o uchimasu. Watashi ka saki-hodo kara bon’yari-shiteimasu. Watashi wa saki-hodo kara jitto sore o nagamete-imasu. Toki-ori mado o utsu kaze no oto ni hatoo ware ni kaerimasu.
Anata wa do shite-iru daro? Kono aida wa do shite ano yo-na wakarekata o shite-shimatta no daro? Ima ni natte anata no kimochi ga itai hodo yoku wakarimasu.
Anata wa honto-ni kanashiso-na me o shite-imashita. Anata wa ima nimo naki-dashiso-na kao o shite-imashita. Soshite kururi to se o mukete, sayonara mo iwazu ni hashiri-satte-shimaimashita.
Watashi wa ima sono toki no anata no ushiro-sugata o omoi-ukabeteimasu. Sore wa totoemo sabishiso-na kanji ga shimashita. Sono taki watashi wa taisetsu-na mono o ushinatte-shimatta to iu ki ga shimashita. Jinhin mo mattaku naku matte-imashita.
Jiyong, soredawa, mata au hi made.
Aishiteru.

Jiyoung

Di luar tampaknya hujan turun. Kadang-kadang angin berhembus dan air hujan menerpa dan menghempas jendelaku. Sejak tadi hatiku tidak menentu. Sejak tadi aku duduk dan terus memperhatikannya. Kadang-kadang suara angin menghempas jendela menyadarkan diriku.
Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa saat-saat ini kita berpisah dengan jalan seperti ini? Sekarang aku sadar betapa sakitnya hatimu.
Kau tampaknya benar-benar sedih, kau dalam sekejap mata tampaknya akan menangis kemudian dengan tiba-tiba kau membalikkan badanmu, dan terus berlari tanpa mengucapkan salam perpisahan.
Sekarang pun aku masih terkenang akan sosok tubuhmu dari belakang. Tampaknya sosok itu amat kesepian. Aku sadar, bahwa ketika itu aku telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Aku kehilangan kepercayaan diriku sama sekali.
Jiyong, sampai bertemu lagi.
Aku mencintaimu.

Jiyoung

Tepat setelah aku selesai membaca nama Jiyoung, pintu ruang operasi terbuka dan dokter mendorong tempat tidur Jiyoung berbaring yang seluruhnya ditutup dengan kain putih. Dengan perlahan aku menghampiri tubuh Jiyoung dan berlutut di sampingnya. Baka! Pabo! Bodoh! Kau bilang akan bertemu lagi!

Aku tidak bisa menangis karena hatiku sudah menangis sejak awal dan ketika melihat tubuh Jiyoung yang membeku seperti itu, aku semakin ingin menghancurkan hatiku dibandingkan harus sakit seperti ini. Aku terus berlutut di samping Jiyoung hingga ia tertutup dengan indah di bawah nisannya.

The End

Title: Haru Haru / Day by Day
Author: Miki Kirari
Rating: PG-13
Genre: Romance
Length: Twoshot
Cast: Big Bang, Kang Jiyoung
Location: South Korea
Languange: Indonesian, Japanese, Korean

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s